Tampilkan postingan dengan label KIsah Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KIsah Nabi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juli 2012

Polotik Versi Nabi

Orang Barat lebih melihat ke bumi, orang Timur lebih melihat ke langit ~
Ungkapan diatas, dikutip dari Sayid Muhammad Baqr Ash-Shadr, ini merupakan justifikasi yang memang terjadi pada realita kehidupan saat ini. Orang barat yang tergila-gila dengan konsep imperialisnya, yang menghendaki pemenuhan kepuasan kepada materi sementara orang Islam berpolitik di muka bumi sebagai Khalifah sebagaimana titah dari langit, sehingga bertendensi religius.
Adrian Leftwich, di dalam bukunya What is Politics ? The Activity and Its Study (Oxford and New York, Blackwell, 1984: 64), menjelaskan bahwa politik adalah jantung dari semua kegiatan sosial kolektif, formal mau pun informal, publik dan privat, di dalam semua kelompok-kelompok manusia, lembaga-lembaga dan masyarakat, dari mulai interaksi sosial keluarga sampai interaksi di dalam bangsa dan mau pun lintas bangsa. Yang membedakannya dari interaksi sosial biasa adalah bahwa politik melahirkan kekuasaan yang memperhatikan penciptaan, pendistribusian dan penggunaan sumber-sumber keberadaan sosial manusia. Dengan demikian, politik memunculkan dimensi kekuasaan pengambilan keputusan, kekuasaan atas agenda setting dan kekuasaan atas kontrol pemikiran.
Kata politik pada mulanya terambil dari bahasa Yunani dan atau Latin politicos yang berarti relating to citizen. Keduanya berasal dari kata polis yang berarti kota. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata politik sebagai “segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain.” Juga dalam arti “kebijakan, cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani satu masalah).”
Jika politik secara hakiki dipandang sebagai proses interaksi antar elemen di dalam suatu negara atau dunia yang berisikan konflik dan konsensus, maka politik dapat dimaknakan sebagai suatu perjuangan memperebutkan sumber-sumber yang terbatas melalui kekuasaan di tengah-tengah hasrat (desire) atau keinginan manusia yang cenderung tidak terbatas. Dengan begitu, menjadi penting pula membicarakan bagaimana proses-proses serta hasil-hasil pengambilan keputusan kebijakan publik dilakukan, siapa menentukan apa dan mendapatkan apa dan bagaimana proses pengaruh-mempengaruhi di dalam pembuatan kebijakan pendistribusian sumber-sumber yang ada di sebuah negara. Juga membicarakan kepentingan-kepentingan apa saja dan siapa saja yang berkonflik di dalamnya serta apa isi konsensus yang dijadikan patokan hidup bersama, adil kah konsensus itu atau sebaliknya hanya menguntungkan satu atau beberapa golongan tertentu di dalam masyarakat.
Politik tidak identik dengan pemerintahan. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu bagian penting politik adalah pemerintahan.
Politik juga bisa dimaknai sebagai seni mengelola perubahan. Malik bin Nabi memberikan gambaran bahwa politik adalah “aktivitas yang terorganisir dan efektif yang dilakukan oleh umat secara keseluruhan –negara dan masyarakat- yang sejalan dengan ideologi mayoritas rakyatnya, dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan saling bantu antara pemerintah dan individu dalam aspek sosial, ekonomi dan budaya; agar politik memberikan pengaruhnya yang kongkret pada realitas sosial, yang membawa pada perubahan bingkai kultur dalam sebuah orientasi yang akan menumbuhkan kecerdasan baru secara harmonis”.
Dalam pandangan itu, politik pada akhirnya adalah “penciptaan kultur”;  yang oleh karena itu, dalam pandangan Malik bin Nabi, aktivitas membangun taman di kota Kairo juga berarti aktivitas politik. Zaki Najib Mahmud berpendapat bahwa politik adalah “melihat bagaimana kondisi tempat kita hidup ini mengalami perubahan” atau upaya mengubah realitas sosial. Politik berarti bahwa kita menciptakan perubahan untuk mereka dan kita menjadikan mereka bisa melakukan perubahan tersebut untuk diri mereka sendiri.
Dalam perspektif Aristoteles dan para filosof Yunani pada umumnya, politik dimaknai sebagai segala sesuatu yang sifatnya dapat merealisasikan kebaikan di tengah masyarakat.
Imam Syafi’i memberi definisi bahwa politik adalah hal-hal yang bersesuaian dengan syara’. Pengertian ini dijelaskan oleh Ibnu Aqil bahwa politik adalah hal-hal praktis yang lebih mendekati kemaslahatan bagi manusia dan lebih menjauhkan dari kerusakan meskipun tidak digariskan oleh Rasulullah saw atau dibawa oleh wahyu Allah Ta’ala.
Selanjutnya politik bisa dimaknai secara lebih luas sebagai kepedulian terhadap berbagai dinamika dan persoalan umat. Hasan Al Banna menyebutkan politik adalah “hal memikirkan persoalan-persoalan internal maupun eksternal umat”. Yang dimaksud dengan internal adalah “mengurus persoalan pemerintahan, menjelaskan fungsi-fungsinya, merinci kewajiban dan hak-haknya, melakukan pengawasan terhadap para penguasa untuk kemudian dipatuhi jika mereka melakukan kebaikan dan dikritisi jika mereka melakukan kekeliruan”.
Sedangkan sisi eksternal politik dalam wacana Al Banna adalah “memelihara kemerdekaan dan kebebasan bangsa, menghantarkannya mencapai tujuan yang akan menempatkan kedudukannya di tengah-tengah bangsa lain serta membebaskannya dari penindasan dan intervensi pihak lain dalam urusan-urusannya”. Karena persepsi semacam inilah Al Banna dengan tegas mengatakan, “Keislaman seseorang menuntutnya untuk memberikan perhatian kepada persoalan-persoalan bangsa”.
Dari berbagai pengertian tersebut dipahami bahwa cakupan aktivitas politik itu luas. Sejak dari aktivitas individual yang memproses perubahan, sampai aktivitas kolektif dalam partai politik atau dalam urusan pemerintahan. Keseluruhannya masuk wilayah pengertian politik. Dengan pengertian seperti ini, tampak bahwa siyasah termasuk salah satu tugas kerasulan yang penting, sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan” (Al Hadid: 25).
Sejarah mencatat bahwa usia dunia politik adalah seusia kehidupan manusia. Dalam kisah Nabi-nabi terdahulu[1], manusia sudah mengenal system pemerintahan, seperti zaman Nabi Ibrahim dengan rajanya “Namrudz” yang terkenal lalim.
Politik Islam dalam sejarahnya pernah menjadi mercusuar dunia, melampaui dua peradaban besar ketika itu, yakni Romawi dan Persia. Namun, hukum sejarah seperti diungkapkan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya berlaku, bahwa sejarah manusia adalah sejarah jatuh bangunnya kekuasaan (pemerintahan) atau dominasi. Ini pula yang dialami Islam.
Abad ini disebut-sebut, misalnya oleh John L Esposito, sebagai abad kebangkitan Islam (revivalisme Islam), dimana Islam sebagai kekuatan politik dan kultural di berbagai belahan dunia, baik itu di dunia Islam sendiri maupun di dunia non Islam, tengah mengalami intensitas peningkatan cukup signifikan, yang tercirikan dengan makin tumbuh suburnya gerakan-gerakan Islam, dari yang berkarakter moderat hingga radikal. Dari yang radikal lunak (soft) hingga radikal yang keras (hard), yang mengambil jalan kekerasan.
Substansi dari semua gerakan itu adalah spirit memposisikan (menegaskan identitas) dan bagaimana memproyeksikan Islam di lingkungan dunia yang saat ini telah mengalami perubahan begitu cepat dan drastis, yang ditandai dengan kemajuan-kemajuan terutama di bidang teknologi (modernisasi) hampir di semua sisi kehidupan. Dengan kata lain, baik itu gerakan yang moderat maupun radikal, sesungguhnya membawa semangat revivalisme Islam.
  • Pertama, Islam adalah pegangan hidup yang lengkap dan total. Agama integral dengan politik, hukum, dan masyarakat.
  • Kedua, kegagalan masyarakat-masyarakat Muslim disebabkan oleh penyimpangan mereka dari jalan lurus Islam dan mengikuti jalan sekuler Barat, dengan ideologi dan nilai-nilai yang sekuler-materialistis.
  • Ketiga, pembaruan masyarakat mensyaratkan kembali pada Islam, sebuah reformasi atau revolusi religio-politik yang mengambil inspirasinya dari Al Quran dan gerakan besar Islam pertama yang dipimpin oleh Nabi Muhammad.
  • Keempat, untuk memulihkan kekuasaan Tuhan dan meresmikan tatanan sosial Islam sejati, hukum-hukum berinspirasi Barat harus digantikan dengan hukum Islam, yang merupakan satu-satunya cetak biru yang bisa diterima bagi masyarakat Muslim.
  • Kelima, meski westernisasi masyarakat dikecam, modernisasi tidak. Ilmu pengetahuan dan teknologi diterima, tapi keduanya harus ditundukkan di bawah akidah dan nilai-nilai Islam, demi menjaga dari westernisasi dan sekulerisasi masyarakat Muslim.
  • Keenam, proses Islamisasi, atau lebih tepatnya, re-Islamisasi, memerlukan organisasi-organisasi atau serikat-serikat Muslim yang berdedikasi dan terlatih, yang dengan contoh dan kegiatan mereka, mengajak orang lain untuk lebih taat dan organisasi orang-orang Muslim yang ingin berjihad melawan korupsi dan ketidakadilan sosial.
  • Ketujuh, Revivalisme Islam menginginkan kembalinya Islam sebagai mercusuar dunia seperti yang pernah dialami di masa lalu, dalam segala bidang, baik itu agama, politik, ekonomi, budaya, bahkan sains dan teknologi. Keinginan ini barangkali terlalu utopis, jika melihat bagaimana dominasi kekuatan dunia saat ini bukan lagi terletak pada persoalan semata-mata politik kekuasaan, yakni bagaimana negara-negara di seluruh dunia bersatu dalam satu pemimpin (khilafah), misalnya, tapi saat ini dominasi itu ada pada kekuatan ekonomi pasar yang bahkan bisa mengalahkan kebijakan sebuah negara.
Adalah penting untuk membuka kembali lembaran sejarah Nabi Muhammad SAW serta mencontoh keteladanannya dalam mengelola kekuasaan dalam menciptakan kebaikan kualitatif maupun kuantitatif. Apalagi bagi umat Islam Muhammad bukan sekadar cermin teladan (uswah hasanah) dalam masalah rohani, melainkan juga contoh ideal seorang pemimpin duniawi.
Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw, tidak sebatas urusan agama semata, akan tetapi beliau juga pemimpin sebuah negara yang mempunyai wilayah kekuasaan, rakyat, dan sistim ketatanegaraan.
Ali Syariati yang menggambarkan sosok, karakter, dan perilaku Nabi dalam tulisannya yang berjudul A Visage of Prophet Muhammad. Diantara sosok Nabi menurut Syariati, Sosok Nabi sebagai pemimpin militer : “”Tidak ada pemimpin militer, sehubungan dengan operasi militernya sendiri, yang mampu melibatkan dirinya dalam perang sebanyak itu, (64 atau 65 kali) dalam sepuluh tahun kepemimpinannya di bidang sosial dan politik,” tutur Syariati.
Namun, Syariati tidak melihat Nabi sebagai pemimpin militer belaka. Ia pun mencatat rincian-rincian lainnya mengenai sosok Nabi yang memperlihatkan kualitas kemanusiaannya yang terpuji.
Tidak dilupakan, misalnya, bahwa sebagai pemimpin yang mampu menandingi bahkan meruntuhkan sejumlah kekaisaran besar pada zamannya, Nabi berkenan menerima seorang wanita yang selama sekitar satu jam mengadukan masalah rumah tangganya. Juga sekali waktu, sepulang berperang, Nabi turun dari kudanya dan menemui seorang buruh kecil yang terkucil. Diciumnya tangan sang buruh yang kasar itu.
Marshal G Hodgson dalam tulisannya yang bertajuk The Venture of Islam, mengungkapkan, “Masyarakat Muhammad terdiri dari kaum Muslim dan non-Muslim dalam berbagai ragam derajat keanggotaan.”
Sejak saat itu, tulis Hodgson, komunitas itu tak lagi sekadar sebuah suku baru yang terdiri dari orang-orang beriman atau bahkan sekedar perkumpulan revolusioner lokal.  ‘’Masyarakatnya terdiri dari berbagai unsur heterogen yang diorganisasi secara lebih baik dibandingkan sistem organisasi masyarakat Makkah, baik secara religius maupun politik,’’ papar Hodgson.
Struktur politik yang dibangun Muhammad, papar Hodgson, merupakan bangunan yang kini dikenal dengan sebutan negara, seperti negara-negara lain yang ada di sekeliling Jazirah Arab, lengkap dengan otoritas tata pemerintahan yang berdasarkan aturan hukum.
Dalam praktek kenegaraan yang dijabarkan oleh nabi adalah membangun negara Madinah dan pemerintahannya, dan dilanjutkan oleh penerus beliau 4 (empat) khalifah yang terkenal (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali) yang dikenal dengan panggilan Khulafaurrasyidin Ahmadiyyin (Pemimpin yang cerdas dan mendapat petunjuk). Sejatinya Islam adalah agama yang sempurna termasuk sistim politik dan Ketatanegaraan, maka tidak perlu bagi umat Islam mengimport sistem politik Barat yang sangat kental dengan sekularismenya.
Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai. (HR. Ath-Thabrani)
Referensi :
  1. Negara dan Keadilan Sosial: Krisis Legitimasi Politik Di Era Kapitalisme Global, Ahmad Taufan Damanik.
  2. Sebuah Bahan Perenungan, Cahyadi Takariawan.
  3. Corak Pemikiran Politik Dalam Dunia Islam, Dokumen Sadeli.
  4. Memposisikan Revivalisme Islam, Fajar Kurnianto, Duta Masyarakat.
  5. Nabi Muhammad SAW : Negarawan Teragung Sepanjang Masa, Republika Online.

[1] Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam: Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX ,(Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003) h. 26. Nabi Ibrahim hidup antara tahun 1700-2000 SM. Pada peradaban orang-orang Sumeria.

Rabu, 27 Juni 2012

Rahasia Sukses Orang Kaya



RAHASIA SEDEKAH
Kisah ini saya baca disebuah majalah motivasi yang mengulas rahasia sukses seorang milyarder. Majalah ini mewawancarai seorang pengusaha muslim dengan penghasilan hingga milyaran rupiah dalam 1 bulan. Setelah selesai membaca kisah sang pengusaha, tanpa pikir panjang saya langsung mengambil catatan agar bisa saya posting di blog ini. Siapa tahu berguna bagi pengunjung blog saya.
Rahasia sukses pertama seorang milyarder ini berhubungan dengan ibu. Dia sangat menghormati dan menyayangi ibunya. Menurut milyarder ini, ibu adalah sosok paling penting dalam rahasia suksesnya. Doanya sangat ampuh, bahkan doa 1000 ulama sekalipun akan kalah dengan doa seorang ibu.

Rahasia sukses kedua seorang milyarder ini berhubungan dengan sedekah. Allah akan melipatgandakan apa yang telah disedekahkan oleh umatnya. Bahkan hingga berlipat 700 kali dari jumlah yang kita keluarkan jika untuk berjuang di jalan Allah. Bukan hanya dalam bentuk materi Allah memberi balasan, bisa juga dengan terhindar dari bahaya, kesehatan, keluarga yang baik, ilmu, dan kesempatan lain. Selain itu, rahasia sukses dia hingga menjadi seorang milyarder yaitu tidak menyepelekan pengemis. Dia selalu memberi sedekah pada pengemis karena doa pengemis atau orang yang sedang kesusahan akan langsung didengar Allah.

Rahasia sukses ketiga seorang milyarder ini berhubungan dengan sikap suka menolong sesama. Menurutnya, Allah sering memberi rejeki yang tak disangka dari perbuatan ini. Pengusaha sukses ini berusaha sebisa mungkin menolong semua orang yang mengalami kesusahan. Dia selalu menjadi dewa penolong pada setiap kesusahan orang, akibatnya saat dia dalam kesulitan, DIA DENGAN MUDAH BERTEMU DEWA PENOLONG PULA.

Itulah sepenggal cerita yang saya dapat beberapa waktu yang lalu. Semoga rahasia sukses seorang milyarder ini bisa menjadi spirit bagi kita. Ternyata berbakti pada orang tua terutama ibu, sedekah, dan suka menolong, bisa mengantarkan seseorang menjadi milyarder. Semoga bermanfaat. Sukses untuk anda…..

Satanic Finance World

Eramuslim.com | Media Islam Rujukan,
“Tidak ada yang kebetulan. Semua ada yang mengatur. Begitulah kata bijak yang sering didengar dunia manusia. Sebaliknya bagi kami, para setan, kata-kata itu sedikit konyol dan menggelikan. Ya, karena kamilah aktor yang mengatur. Kami mau buka-bukaan saja. Kamilah yang menggoda dan membisikkan kejahatan kepada manusia yang lalai. Lalu kami jadikan kejahatan, permusuhan, kebencian, kedengkian, dan kemaksiatan yang merusak umat manusia, tampak indah di mata mereka. Sudah banyak musuh-musuh yang mendiskreditkan upaya kami. Tidak apa-apa, itu merupakan bagian dari perjuangan. Mereka boleh menghina kami.

Tuhan mereka menyebut kami sebagai 'musuh yang nyata' bagi manusia. Faktanya, banyak dari mereka yang beralih kiblat dan menjadi sekutu kami. Sekutu untuk merusak, bukan hanya untuk mereka sendiri, tapi bagi umat manusia, langsung atau tidak langsung. Oh ya, tugas kami menggelincirkan manusia sebagai pribadi sudah banyak diekspos. Mungkin tidak banyak manusia yang tahu, kalau agenda itu terus kami tingkatkan dan perbaharui. Targetnya, bagaimana kerusakan yang menyengsarakan manusia dalam skala masif bisa tercipta. Oke lah, manusia-manusia yang menjadi musuh kami pasti tahu agenda utama kami: menggelincirkan mereka dari jalan kebenaran. Tapi, jangan sangka manusia yang khusyu' dalam majelis ilmu dan majelis dzikir, akan terus selamat dari rekayasa kami. Tidak! Melalui kolega-kolega kami, manusia-manusia berjiwa setan, upaya merubuhkan mereka terus kami rancang. Melalui cara-cara politik yang lihai serta rekayasa ekonomi dan keuangan.

Penetrasi melalui ekonomi? Merekayasa keuangan? Mungkin terdengar aneh. Tapi itulah salah satu penetrasi terbesar kami. Jangan kira tragedi ekonomi yang menyapu hampir semua kawasan Asia Tenggara pertengahan 1997 lalu, lepas dari semua campur tangan kami. Benar seperti kata manusia, bencana itu tidak terjadi secara kebetulan. Bencana itu bagian dari kerja keras kami agar manusia saling jegal, menggunakan cara-cara kami -yang acap kali dicap kotor oleh sebagian manusia- untuk mengeruk keuntungan pribadi dan golongan, dan menyisakan kesengsaraan bagi mayoritas yang lain.

Dimulai dari melemahnya mata uang Bath Thailand terhadap dollar AS, yang kemudian seperti bandul cepat merembet ke negara-negara lain termasuk Indonesia. Tiba-tiba begitu banyak orang, perusahaan, bahkan negara yang utangnya menumpuk karena mata uang domestik terdepresiasi terhadap mata uang asing. Kami bersorak! Kemiskinan dan kemelaratan cepat merebak. Seperti membalikkan telapak tangan. Yang kemarin masih kaya tiba-tiba jatuh miskin. Yang kemarin sudah miskin, pasti lebih celaka lagi. Banyak orang yang tiba-tiba menganggur karena terkena dampak rasionalisasi. Hidup menjadi tambah sulit.

"Jangankan mencari yang halal, yang haram pun susah," begitu keluh kesah sebagian manusia yang frustasi. Sekali lagi kami bersorak. Inilah salah satu prestasi terbaik kami, untuk tidak menyebut yang terbagus setelah menggelincirkan Adam dan Hawa dari singgasana surga! Karena melalui pintu-pintu kemiskinan manusia dengan mudah kami bawa ke pintu kekufuran. Sepanjang tahun kami tertawa mengenang kemenangan kami dan ketololan manusia.”

Inilah sepenggal kisah pembuka penuturan setan mengenai krisis moneter yang terjadi dan dirangkum dalam buku "Satanic Finance" ditulis oleh DR. Ahmad Riawan ‎Amin, ditektur International Islamic Financial Market. Dalam buku ini digambarkan sistem keuangan yang menguasi dunia dan yang berlaku hampir di setiap negara di dunia dengan gaya penuturan seperti cerita yang dikisahkan oleh setan sang aktor dibalik sistem keuangan dunia.
Buku Satanic Finance karya Ahmad Riawan ‎Amin dibuat ringkas dengan bahasa yang sederhana dan dibuat dalam 5 bab. Bab pertama diulas mengenai bahaya penerapan the three pillars of evil, dilengkapi kisah Sukus dan Tukus yang bisa menjadi cermin sederhana bagaimana sistem pilar setan memerosokkoan ekonomi, menceraiberaikan budaya saling tolong dan meyibukkan manusia untuk terus berkompetisi. Bab kedua mengulas bahaya utang dalam perpektif individu maupun negara. Bab ketiga mengulas bagaimana fiat money khususnya dollar, menjadi racun ekonomi. Bab keempat, dimunculkan solusi dari fiat money. Dan bagian kelima menjadi fragmen penutup, mencari yang pembebas.

Namun, rasanya akan kurang lengkap jika hanya membaca bagaimana paparan setan tentang penetrasi dan keberhasilan mereka menggelincirkan manusia melalui sistem ekonomi dan keuangan tanpa membaca Eramuslim Digest edisi 8 yang juga bertema The Satanic Finance: Konspirasi di Balik Sistem Keuangan Dunia.

Pada Eramuslim Digest dikupas secara tuntas tentang sejarah uang dan sistem keuangan dunia berdasarkan fakta yang tidak banyak diketahui. Mulai dari sejarah uang, pemakaian emas, hingga segala hal yang saling berkaitan dengan sistem keuangan serta aktor manusia yang berada dibaliknya.

Kedua buku ini menjadi penting untuk dibaca bagi setiap muslim untuk mengetahui secara jelas siapakah musuh-musuh Allah SWT dalam bidang keuangan. Dan solusi apakah yang seharusnya diambil dan didukung penuh untuk dapat keluar dari satanic finance yang membelenggu.

Pesan sekarang juga Buku Satanic Finance karya DR. Ahmad Riawan Aminn, dan dapatkan diskon 50% untuk pembelian Eramuslim Digest 8 The Satanic Finance. Jadi tunggu apalagi ?!


Penulis : Ahmad Riawan Amin

ISBN: 978-602-9346-89-3

Ukuran: 15 X 23 cm, Soft Cover

Halaman: 124 hal

Berat : 300 gram

Penerbit : Zaytuna (Ufuk Press)

Harga awal Rp 150.000,-
Harga Diskon Rp 70.000,- 

Pemesanan hubungi dinarislam33@gmail.com
Beli Dinar ?? www.rajadinar.com

Sabtu, 16 Juni 2012

Kisah Nabi Danial dan Nabi Irmiya

Raja Nebukadnezar [1] datang ke Baitul-Maqdis dari Syria, lalu membunuh kaum Bani Isra’il, merampas kota Baitul-Maqdis dengan aksi kekerasan, dan menawan anak cucu mereka, yang salah satunya adalah Danial ‘alaihis salam. [2]
nabi danial dan irmiyaSebelum aksinya, raja ini lebih dulu didatangi oleh ahli nujum dan paranormal, seraya mereka bilang: Suatu malam akan lahir seorang bayi fulan yang bakal memporak-porandakan kerajaanmu. Lalu sang Raja menjawab: Demi Tuhan! Tak akan tersisa malam itu seorang bayi lahir kecuali akan kubunuh. Semua bayi dihabisi, kecuali bayi Danial saja yang tidak dibunuh dan hanya dialungkan ke singa hutan. Namun singa itu enggan memangsanya, malah singa betinanya menjilat-jilat sang bayi dan tidak melukainya. Kemudian ibunya datang dan menemukan kedua singa (jantan dan betina) itu tengah menjulur-julurkan lidahnya ke tubuh anaknya. Allah lalu menyelamatkan bayi itu.
Setelah kejadian itu, ulama setempat menuturkan bahwa Danial lalu melukis/mengabadikan gambarnya dan gambar kedua singa yang menjilatinya itu pada permata cincin agar dia tidak lupa akan nikmat Allah atasnya (diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dunya dengan sanad hasan).
Dalam redaksi yang lain diceritakan: Selepas Musa ‘alaihis salam yang berselang cukup lama, ada seorang nabi yang dipanggil dengan Danial. Nabi ini didustai oleh banyak kaumnya, diciduk oleh rajanya, seraya dilemparkan ke hadapan macan yang sengaja dibuat lapar di dalam perigi. Tapi ketika Allah melihat keelokan tawakal kepada-Nya dan kesabarannya demi menuntut sesuatu yang ada di sisi-Nya, maka Allah menahan mulut-mulut singa itu untuk memangsanya, malah ia berdiri dengan kedua kakinya di atas singa itu. Singa itu berhasil dijinakkan dan tidak melukainya. Lalu Allah mengirim Irmiya [3] dari negeri Syria, yang kemudian membebaskan Danial dari kesulitan ini, dan menghancurkan orang yang hendak melenyapkan Danial.
Dari Abdullah bin Abu Hudhail, ia berucap: Nebukadnezar telah melatih dua ekor singa dan melemparkan keduanya ke dalam sumur. Lalu dia bawa Danial dan dia masukkan ke dalam sumur itu, namun kedua singa itu tidak menerkamnya. Apa yang diinginkan Allah, itulah yang terjadi terhadap Danial. Tapi sebagaimana manusia lainnya, Danial pun ingin makan dan minum. Kemudian Allah mewahyukan Irmiya yang tengah berada di Syria agar menyiapkan makanan dan minuman untuk Danial. Irmiya pun menyahut: Wahai Rabb, aku tinggal di bumi yang suci (Syria) sedang Danial ada di negeri Babilonia, negara bagian Irak. Lalu Allah kembali mewahyukan agar Irmiya mempersiapkan sesuatu yang sudah Allah perintahkan, dan Allah akan mengirim makhluk yang akan membawa dirinya sekaligus membawa apa yang sudah ia siapkan. Irmiya pun menunaikan perintah wahyu itu, lalu Allah Mengutus makhluk yang membawa Irmiya sekalian membawa segala sesuatu yang sudah disiapkannya, hingga sampai di mulut sumur itu, tempat Danial tergolek. Danial menyambutnya dengan bertanya: “Siapa anda?”
“Saya Irmiya,” jawabnya.
“Siapa yang membawamu?” tanya Danial.
“Rabbmu mengutus aku agar menemuimu,” kata Irmiya.
Danial menimpali: “Dia (Rabb) menyebut aku?”
“Ya,” jawab Irmiya.
Ucap Danial: “Segala puji bagi Allah, Dzat yang tidak melupakan orang yang mengingat-Nya. Segala puji bagi Allah, Dzat yang tidak mengecewakan orang yang menharap-Nya. Segala puji bagi Allah, Dzat yang barangsiapa bertawakal kepada-Nya, niscaya Allah akan mencukupinya. Segala puji bagi Allah, Dzat yang barangsiapa menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya, maka Allah tidak akan mewakilinya kepada yang lain. Segala puji bagi Allah yang mengganjar ihsan (kebajikan) dengan ihsan dan membalas keburukan dengan pengampunan. Segala puji bagi Allah yang membalas kesabaran dengan kejayaan. Segala puji bagi Allah yang telah mengangkat kesukaran kami setelah kesulitan kami. Segala puji bagi Allah, Yang adalah tumpuan kepercayaan kami ketika kami berpraduga buruk terhadap amal-amal kami. Segala puji bagi Allah, Dzat yang adalah tumpuan harapan kami ketika siasat telah terputus dari kami.”
Catatan kaki:
[1] Nebukadnezar (604-561 SM) adalah Raja Babilonia yang menyerang Mesir dan membebaskan al-Quds, lantas membakarnya, juga mengusir orang-orang Yahudi ke Babilonia. (lihat al-Munjid)
[2] Nabi Danial adalah penulis Kitab Danial, yaitu bagian dari Kitab Perjanjian Lama, yang juga pahlawan kenabian. Tradisi Masihi memasukkannya sebagai salah satu di antara empat Nabi yang besar (lihat al-Munjid dan al-Bidayah juz Ii, hlm. 36-38).
Para sahabat menemukan makamnya dan segala hal yang bertautan dengannya saat pembebasan yang terjadi pada era Umar bin Khaththab.
[3] Irmiya adalah salah satu nabi terbesar Bani Isra’il yang empat, yang memperoleh kenabian sebelum punahnya kerajaan orang-orang Yahudi. Ia banyak mengalami intimidasi dan siksaan dari pihak kerajaan.
Sumber: Sorga di Dunia karya Ibrahim bin Abdullah Al-Hazimi (penerjemah: Abu Sumayyah Syahiidah), penerbit: Pustaka Al -Kautsar, cet. Kedua, Mei 2000, hal. 39-42.
sumber: http://fadhlihsan.blogspot.jp/2012/03/kisah-nabi-danial-dan-nabi-irmiya.html

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes